Mengapa Orang Indonesia Sulit Belajar Bahasa Arab?


Masalahnya mungkin bukan pada bahasa Arab. Bisa jadi masalahnya ada pada cara kita memandang bahasa Arab sejak awal.


"Saya Sudah Belajar Bertahun-Tahun, Tapi Tetap Belum Bisa"

Kalimat seperti ini sering saya dengar.

Ada yang pernah belajar di pesantren.

Ada yang pernah mengikuti berbagai kursus.

Ada yang sudah menghafal puluhan bahkan ratusan kosakata.

Namun ketika diminta membaca teks Arab tanpa harakat, mereka masih ragu-ragu.

Ketika mendengar percakapan bahasa Arab, mereka masih kesulitan mengikuti.

Akhirnya muncul kesimpulan:

"Bahasa Arab memang sulit."

Tapi benarkah demikian?

Menariknya, jutaan manusia yang bukan orang Arab berhasil menguasai bahasa Arab. Banyak ulama besar dalam sejarah Islam bahkan bukan berasal dari bangsa Arab.

Lalu mengapa banyak orang Indonesia merasa bahasa Arab sangat sulit?

Mari kita lihat lebih dalam.


Fakta yang Jarang Disadari: Kita Sudah Mengenal Bahasa Arab Sejak Kecil

Jika Anda seorang Muslim Indonesia, kemungkinan besar Anda sudah berinteraksi dengan bahasa Arab sejak usia dini.

Anda mengucapkan:

  • Assalamu'alaikum

  • Alhamdulillah

  • Insya Allah

  • Masya Allah

  • Astaghfirullah

  • Subhanallah

Saat shalat, Anda membaca bahasa Arab.

Saat mengaji, Anda membaca huruf Arab.

Saat mendengar ceramah, Anda mendengar istilah Arab.

Artinya, berbeda dengan bahasa Jepang, Korea, atau Jerman, bahasa Arab sebenarnya bukan bahasa yang benar-benar asing bagi kita.

Masalahnya bukan karena kita tidak pernah bertemu bahasa Arab.

Masalahnya adalah kita bertemu bahasa Arab hampir setiap hari, tetapi jarang diajarkan untuk memahaminya.


Kesalahan Pertama: Kita Belajar Bahasa Arab Seperti Belajar Matematika

Coba ingat pengalaman belajar bahasa Arab di sekolah.

Biasanya dimulai dengan:

  • Fi'il

  • Isim

  • Huruf

  • Mubtada'

  • Khabar

  • Marfu'

  • Manshub

  • Majrur

Semuanya penting.

Tetapi bagi pemula, pendekatan ini sering membuat bahasa Arab terlihat seperti kumpulan rumus.

Bayangkan seorang anak belajar bahasa Indonesia.

Apakah ia memulai dengan mempelajari subjek, predikat, objek, dan keterangan?

Tentu tidak.

Ia mendengar.

Ia meniru.

Ia berbicara.

Barulah kemudian memahami tata bahasa.

Sayangnya, banyak orang Indonesia diperkenalkan kepada bahasa Arab melalui teori sebelum pengalaman berbahasa.

Akibatnya mereka mengenal aturan, tetapi tidak merasa hidup bersama bahasa tersebut.


Kesalahan Kedua: Kita Mengira Bahasa Arab Hanya Satu

Ini fakta yang mengejutkan banyak orang.

Bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur'an tidak selalu sama dengan bahasa Arab percakapan sehari-hari.

Seorang warga Arab yang berbicara di pasar tidak selalu berbicara seperti teks Al-Qur'an.

Sebagaimana orang Indonesia tidak berbicara seperti isi Undang-Undang atau karya sastra.

Banyak pelajar tidak mengetahui perbedaan ini.

Mereka berharap setelah belajar beberapa bulan langsung bisa memahami Al-Qur'an sekaligus memahami percakapan orang Arab.

Padahal keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Ketika ekspektasi tidak sesuai kenyataan, mereka merasa gagal.


Kesalahan Ketiga: Kita Terlalu Fokus pada Yang Sulit

Saat mendengar bahasa Arab, banyak orang langsung memikirkan:

  • Nahwu

  • Sharaf

  • I'rab

  • Balaghah

Padahal sebagian besar komunikasi sehari-hari dibangun dari kosakata yang berulang.

Tahukah Anda?

Dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab, sebagian besar percakapan sehari-hari hanya menggunakan sebagian kecil dari keseluruhan kosakata yang ada.

Artinya, seseorang tidak harus mengetahui puluhan ribu kata untuk mulai memahami bahasa Arab.

Namun karena sejak awal yang ditampilkan adalah bagian tersulitnya, banyak orang kehilangan semangat sebelum merasakan kemajuan.


Kesalahan Keempat: Kita Tidak Pernah Memiliki Peta Jalan

Bayangkan seseorang ingin pergi dari Aceh ke Jakarta.

Lalu ia hanya diberi kendaraan tanpa diberi peta.

Kemungkinan besar ia akan tersesat.

Hal yang sama terjadi dalam belajar bahasa Arab.

Banyak pelajar tidak tahu:

  • Harus mulai dari mana.

  • Harus belajar apa terlebih dahulu.

  • Kapan belajar kosakata.

  • Kapan belajar nahwu.

  • Kapan mulai membaca kitab.

  • Kapan mulai memahami Al-Qur'an.

Akhirnya mereka berpindah-pindah metode.

Hari ini belajar aplikasi.

Besok menonton video.

Lusa membeli buku baru.

Minggu depan mengikuti kursus lain.

Sibuk belajar, tetapi tidak bergerak maju.


Kesalahan Kelima: Kita Terlalu Cepat Ingin Hasil

Di era media sosial, semuanya serba instan.

Muncul iklan:

"Kuasai bahasa Arab dalam 7 hari."

"Fasih bahasa Arab dalam 30 hari."

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Bahasa adalah keterampilan.

Dan keterampilan membutuhkan proses.

Tidak ada yang menjadi ahli mengemudi hanya dengan membaca buku mengemudi.

Tidak ada yang menjadi atlet hanya dengan menonton video olahraga.

Begitu pula bahasa Arab.

Kemajuan memang bisa cepat.

Tetapi penguasaan yang kokoh tetap membutuhkan waktu.


Ironisnya, Bahasa Arab Tidak Sesulit yang Kita Bayangkan

Banyak orang terkejut ketika mengetahui bahwa sistem bunyi bahasa Arab sebenarnya relatif dekat dengan lidah orang Indonesia.

Sebagian besar huruf Arab dapat diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia tanpa kesulitan berarti.

Struktur kalimat dasar bahasa Arab juga tidak serumit yang sering dibayangkan.

Bahkan banyak kosakata Arab yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia:

  • Kitab

  • Ilmu

  • Hakim

  • Kabar

  • Musyawarah

  • Dunia

  • Akhirat

  • Manfaat

  • Ijazah

  • Hikmah

Tanpa sadar kita telah menggunakan ribuan kata serapan Arab dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, jarak antara orang Indonesia dan bahasa Arab sebenarnya lebih dekat daripada yang selama ini kita kira.


Jadi, Apa Sebenarnya Masalahnya?

Setelah melihat berbagai fakta di atas, kita dapat menyimpulkan sesuatu yang menarik.

Sebagian besar orang Indonesia tidak gagal karena bahasa Arab terlalu sulit.

Mereka gagal karena:

  • Tidak memiliki peta belajar yang jelas.

  • Memulai dari bagian yang terlalu rumit.

  • Terlalu banyak teori dan terlalu sedikit praktik.

  • Memiliki ekspektasi yang tidak realistis.

  • Tidak memahami tahapan belajar bahasa.

Dengan kata lain:

Masalah terbesar dalam belajar bahasa Arab sering kali bukan bahasa Arab itu sendiri.

Masalah terbesar adalah cara kita belajar bahasa Arab.


Penutup

Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an.

Bahasa yang selama lebih dari 14 abad menjadi jembatan ilmu, peradaban, dan pemahaman agama.

Jika jutaan manusia dari Turki, Pakistan, India, Inggris, Amerika, hingga Indonesia berhasil mempelajarinya, maka tidak ada alasan untuk menganggap bahasa Arab hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu.

Mungkin yang Anda butuhkan bukan bakat yang lebih besar.

Bukan pula kecerdasan yang luar biasa.

Mungkin yang Anda butuhkan hanyalah peta yang benar, langkah yang tepat, dan kesabaran untuk terus berjalan.

Karena perjalanan memahami bahasa Al-Qur'an tidak dimulai dari menjadi sempurna.

Ia dimulai dari keberanian untuk melangkah.

DotyCat - Teaching is Our Passion